Ketika Seseorang Memuji Dirinya Sendiri (Ujub), Maka Akan Hilang Kemuliaan Yang Dimiliki Dirinya

Loading...
Loading...
Dengan Kemajuan teknologi dan pesatnya perkembangan media sosial membuat orang mudah untuk berbagi setiap momen kepada teman ataupun kerabat. Tak hanya itu, terkadang ibadah yang sedang dilakukan pun tak luput menjadi bahan unggahan, meskipun kita tidak tahu apa motivasi di balik unggahan-unggahan tersebut.


Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Terlebih bagi seorang wanita, saat pujian datang dari seseorang yang istimewa tentulah hati akan bahagia jadinya. Itu manusiawi, namun jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niat pun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela, tetapi jangan sampai kecenderungan itu dominan dan akhirnya menjadikan kita sebagia pribadi yang terlalu membanggakan diri sendiri.

Setan mempermalukan seseorang dengan rasa kagum pada diri sendiri atau ujub. Orang yang ujub adalah orang yang mempermahal atau menuntut harga yang tinggi untuk dirinya dari yang sesungguhnya.

Basyar ibn Al-Harits lain lagi. Ia mendefiniskan ujub dengan kalimat, “Apabila kamu sudah menganggap bahwa amalmu lebih banyak, sedangkan engkau menganggap amal orang lain sedikit.”

Sikap meremehkan dan menyerang orang lain juga salah satu tanda yang paling menonjol dari sifat ujub. Sufyan Ats-Tsauri mengungkapkan, “Sifat ujub adalah kekagumanmu pada dirimu sendiri, sehingga kamu merasa bahwa kamu lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya dari saudaramu. Padahal, bisa jadi kamu tidak beramal dengan benar seperti dia, atau barangkali ia lebih wara’ darimu terhadap hal-ahal yang diharamkan Allah dan lebih tulus amalnya.”

Fudhail bin ‘Iyadh sependapat dengan Ats-Tsauri. Katanya, “Apabila Iblis telah berhasil melakukan tiga hal pada diri anak Adam, maka ia akan berkata, ‘Saya tidak akan menuntutnya dengan hal yang lain.’ Tiga hal itu adalah: dia ujub pada dirinya sendiri, dia merasa amalnya sudah banyak, dan dia melupakan dosa-dosanya.”

Tiga sifat yang disebut Fudhail adalah ciri utama sifat ujub. Dan ketiganya adalah pangkal dari perbuatan dosa. Iblis menjamin jika seseorang sudah terjangkiti sifat itu, ia akan mudah melakukan dosa-dosa yang lain yang disukai Iblis. Karena itu camkan perkataan Nabi Isa a.s. yang dikutip Fudhail bin Iyadh ini, “Betapa banyak pelita yang dipadamkan oleh angin dan betapa banyak ibadah yang dirusak oleh sifat ujub.”

Jadi, jangan padamkan cahaya amal Anda dengan sifat ujub!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel