Kisah Hijrah Roni Bodax, Pria Bertatto hingga ke Bola Mata, Kini Berdakwah & Sadarkan Banyak Preman

Loading...
Loading...
Roni Bodax yang saat itu mengenakan pakaian muslim menceritakan bagaimana proses dirinya hijrah hingga bisa seperti sekarang ini.


Roni Bodax yang kini berusi 23 tahun ternyata telah melewati semua jejak hitamnya sejak berusia belia.

Saat mengukir tatto untuk pertama kalinya, usia Roni Bodax baru 15 tahun, masih duduk di bangku 1 SMP.


Saat masih SMP itulah Roni Bodax mulai memiliki penyimpangan pergaulan.

Roni mengaku jika dirinya tidak bergaul dengan teman sekolah atau seusianya, melainkan orang yang lebih dewasa atau anak-anak punk yang juga mengenakan tato.

Awalnya, Roni mentatto kakinya dengan tujuan untuk menutupi bekas luka akibat terkena knalpot motor.

Namun lama kelamaan dirinya seperti merasa ada candu untuk terus mentatto tubuhnya.

"Bikin tatto itu karena alasan pingin nutupin bekas luka, kena knalpot itu sini.. terus aku tutupin gambar gitu kan," ujar Roni.

"Awalnya cuma ngeliatin kok ini belang gini diliatin kok ga enak gitu kan waktu itu awal-awal pake celana pendek keliatan gak asik gini yaudah bikin tattoo gitu", lanjutnya.

Tak tanggung, Roni kala itu mentatto seluruh tubuhnya, bahkan hingga seluruh kepala dan bola mata sebelah kirinya.


Bagi Roni mentattoo tubuhnya menjadi sebagian gaya hidupnya kala itu.

Kenakalan saat usia remaja membuat Roni akhirnya lupa dengan pendidikannya saat itu.

Roni hanya bertahan menempuh pendidikan hingga kelas 2 SMP lantaran telah merasa asik bermain dengan pergaulannya yang bebas.


Tak hanya tattoo, Roni juga telah mencoba berbagai jenis obat-obatan terlarang dan mengkonsumsi minuman keras kala itu.

"kalo seumpama gitu gua mikirnya wah gua pusing nih baru patah hati gitu, tattoo, baru patah hati gitu mabok.. itu sebenernya cuman suggest aja
jadi kalo kita lagi pusing, lagi ada masallah, ada problem.. apasih sebenernya kadang orang cuma buat pelampiasan", tuturnya.

Mendengar cerita kelam dari Roni Bodax, Irfan Hakim pun penasaran dengan reaksi orang tua melihat kelakuan Roni.

Roni mengatakan jika orang tuanya marah namun ditunjukkan dengan cara yang bijak, tidak dengan kasar ataupun kekerasan.

Namun dirinya mengaku meski 'nakal' dan bertatto, dirinya akan berfikir dua kali jika melakukan tindakan asusila.

Roni mengaku tidak berani melakukan hal yang lebih karena dirinya bertatto dan mudah dikenali orang jika membuat masalah.

Hingga akhirnya Roni memilih berhijrah pasca sang Ayah meninggal dunia pada 2015 silam.


Kala itu sang Ayah meninggal lantaran sakit saat berada di Jakarta.

Saat hijrah pun Roni Bodax masih mendpat hujatan dan keraguan dari berbagai pihak.

Misalnya sampai dikatakan bertatto tidak sah untuk sholat dan lain-lain.


Menjemput hidayah bagi Roni bagaikan mendapat berlian yang tentu tidak dapat di sia-sia kan.

Baginya hijrah ibarat seperti mendapat berlian yang harus segera diambil dan tidak bisa dilewatkan.

Kendati berpenampilan seperti itu, pria berusia 22 tahun itu tak pernah putus asa untuk menyampaikan ajaran Islam.


Bahkan sasaran berdakwahnya pun tidak biasa dengan pendakwah-pendakwah lain pada umunya.

Roni Bodax berdakwah kepada kalangan anak jalanan dan preman yang gemar mabuk dan mencicipi narkoba.

Dengan latar belakangnya yang juga pernah mencicipi dunia kelam, Roni Bodax bisa memahami orang-orang yang slah pergaulan dan secara pelan mengajak mereka taubat.

Ia pun merasa bersyukur dapat berhijrah dan kembali menjalani kehidupan sesuai syariat Islam.

Kini Roni telah mendapat kesempatan untuk menemukan dan mengubah jalan hidupnya untuk berdakwah.

Roni juga menyarankan kepada orang-orang yang pernah mengalami kehidupan kelam seperti dirinya untuk keluar dari lingkungan hitam tersebut.

"Kalau keluarga nggak ada, cari yang deket-deket. Nongkrong aja dulu di warung depan masjid," ujarnya.

"Maksiat aja bisa total kenapa hijrah nggak bisa total," kata Roni Bodax.


Sumber : palembang.tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel