Ketika Istri Sedang Lelah Sebab Pekerjaan Rumah, Manjakanlah, Karena Istri Itu Amanah Bukan Pembantu.

Loading...
Loading...
Istri kelelahan umumnya karena mengerjakan banyak aktivitas. Seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu, ia bekerja hampir 18 jam sehari. Sebelum Subuh ia telah bangun. Memasak, mencuci piring, bahkan ada yang memandikan anak.


Setelah itu mengantar anak ke sekolah, membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci baju, menyeterika dan seabrek pekerjaan lainnya. Memasak tak cukup sekali, membersihkan dapur dan alat makan tak cukup sekali. Belum lagi menemani anak, bahkan ada yang merawat bayi.

Jika seorang istri bekerja lalu masih juga menangani pekerjaan rumah tangga sebanyak itu, bisa dibayangkan kelelahannya akan lebih besar lagi.

Seorang suami yang baik, mestinya ia pengertian. Itu poin utama. Jangan justru menuntut istri bertindak sempurna. “Rumah harus bersih, makanan harus enak.” Sementara ia sibuk kerja yang untuk menggaji pembantu saja tidak cukup. Komentar-komentar negatif dan menyalahkan, itu jauh lebih melelahkan istri dari seabrek aktifitas domestik.

Ketika suami pengertian, penuh cinta dan kasih sayang, banyaknya aktifitas yang sebenarnya bukan semuanya tugas istri itu, terasa lebih ringan. Lelah terhapus, atau minimal terobati, oleh cinta.

Hakikatnya, kisah cinta yang sempurna bukanlah cerita Romeo dan Juliet. Namun, sebagaimana kisah Rasulullah dan Aisyah, yang dalam pengakuan Aisyah sendiri ia mengatakan betapa indahnya hubungan yang dijalani bersama Rasulullah. Kendatipun Rasulullah adalah seorang panglima perang yang pemberani, tapi tetap saja kisah cintanya bersama Aisyah begitu indah.

“Di medan jihad, beliau adalah panglima perang pemberani, sementara di rumah beliau adalah sosok yang romantis dan lembut terhadap istrinya” kata Ketua Ikatan Quran Hadis Indonesia, Ustaz Fauzan Amin. Disebutkan dalam hadis: “Aisyah r.a, berkata: “Rasulullah berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (HR. At Tirmidzi).

Romantisme Rasulullah dan Aisyah memang cukup sederhana, tapi bermakna dalam. Masih dalam penjelasannya Ustaz Fauzan mengatakan, Rasulullah biasa mencium istrinya saat hendak berangkat menunaikan salat berjemaah di masjid, yang juga disebutkan dalam hadis HR. At-Tirmidzi No. 86, Ibnu Majah No. 502.

Kehidupan rumah tangga yang dihadapi seorang istri, akan jauh berbeda dengan ketika pertama kali memasuki kamar pengantin, penuh kemesraaan, dan segalanya hanya untuk berdua, Semakin hari, perubahan bulan dan tahun, setelah hadir anak-anak, aktivitas istri semakin terus bertambah.

Namun, banyak suami tidak sedikitpun melirik, dan menyadari peranan istri yang begitu besar dalam rumah tangga, ketika menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga.
Malah ada suami yang menggerutu saat melihat istrinya tidak bisa tampil cantik dan segar, hanya sebab tuntutan kesibukan sehari-hari yang mendera hidupnya.

Sebenarnya sebagai seorang suami dapat merasakan keberadaan seorang istri dalam rumah tangga dengan rasa kemanusiaan. Betapa besar dan repotnya tugas istri dalam rumah tangga, ini yang sebaiknya disadari suami, lalu menjalin saling pengertian dan penuh perhatian dengan usaha dan cara-cara yang tepat, agar beban rumah tangga itu tidak terasa berat.

Perhatian suami terhadap istrinya yang sudah bekerja keras untuk keluarganya itu bisa merupakan cermin memiliki kehendak yang searah, sama-sama menginginkan kebaikan dan keindahan rumah tangga, menginginkan kemuliaan dan keselamatan dunia akhirat.

Sumber : bighio.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel