Cerita Korban Pesugihan yang Bisa Kembali ke Rumah karena Azan

Loading...
Loading...


Sudah sebagaimana mestinya, orang tua menyayangi anaknya sepenuh hati. Anak, sebagai bagian dari darah daging, ialah sumber kebahagiaan. Demi anaknya, orang tua rela pontang-panting bekerja keras mencari uang, bahkan tersiksa. Apa-apa yang dilakukan orang tua ialah untuk kebahagiaan si anak.

Namun, itu tak diperoleh oleh seorang lelaki berumur 55 tahun dari Bogor yang, sebut saja namanya, Madin. Belakangan, ia mengaku telah menghadapi pusparagam siksaan di alam siluman babi selama 15 tahun lantaran menjadi tumbal orang tuanya. Semua itu dilakukan orang tuanya demi kekayaan, atau istilahnya, pesugihan. 

Suatu malam, seorang lelaki tua mendatangi kampung yang telah ia tinggal dalam waktu lama. Ia berjalan dengan terseok. Orang-orang kampung mengiranya telah mati, meskipun perkiraan itu tak berarti mereka mengetahui alasan kematian itu. Lantaran misteri itu, saat lelaki tua itu datang, banyak orang menyebutnya sebagai mayat hidup. Tak ada satu pun yang mau mendekatinya. Semua orang ketakutan.

Lelaki tua itulah Madin. Ia datang tiba-tiba di suatu malam, membikin takut semua orang. Ibunya, yang dengan tega menjadikannya tumbal saat ia remaja, kaget bukan kepalang. Saat itu, suaminya (bapak Madin) telah meninggal. Banyak hal telah terjadi semenjak kepergian Madin. Menurut pengakuan ibunya pada warga kampung, Madin telah lama mati. Malam lalu menjadi gaduh dan orang-orang bergidik.


Semua berawal dari sebuah sore ketika Madin remaja menggembalakan keempat ekor kambing bapaknya seperti biasa. Sebagai warga miskin, hanya itu harta berharga yang dimiliki keluarga Madin. Setamat SD, orang tuanya tak lagi mampu menyekolahkan anak. Jadilah sehari-hari Madin menggembalakan empat kambing di tepi hutan karet dekat Sungai Cisadane, tak jauh dari kampungnya.

Sore itu, ketika matahari mulai menelungkup di sisi barat, Madin duduk di bawah sebuah pohon karet, kelelahan. Keempat kambingnya ia biarkan berkeliling hutan mengitari pohon-pohon. Sambil duduk, ia menyandarkan punggungnya ke batang pohon, terkantuk-kantuk.

Tak selang lama, kantuknya dicampuri oleh seorang lelaki berkulit gelap yang tiba-tiba berdiri tegak di sampingnya dan berbicara dalam bahasa Sunda. Ia mengatakan pada Madin, ““Bapakmu sudah menunggumu di sana, dia ada di rumah kami!”. Mendengarnya, Madin langsung menurut dan ikut pergi bersama orang itu.

Singkat kata, Madin lalu dibawa ke rumah orang itu. Rumahnya besar dan berada di tengah hutan. Tak seperti yang dijanjikan lelaki berkulit gelap itu, Madin tak mendapati bapaknya berada di sana. Ia justru melihat rumah besar itu sebagai tempat kerja yang sibuk minta ampun. Puluhan orang di sana bekerja tanpa henti, dan setiap ditanya Madin tentang apa yang sedang mereka lakukan, orang-orang itu hanya menggelengkan kepala dengan mata kosong. Semenjak itu, tanpa kenal lelah, Madin mulai mengikuti apa yang dilakukan orang-orang itu.

Berita hilangnya Madin membuat gempar satu kampung. Selang beberapa hari setelah itu, seorang penderes getah karet menemukan seonggok mayat yang tergeletak di pinggir hutan. Badannya seperti habis dicabik-cabik binatang buas. Penderes itu lalu melapor pada warga kampung. Melihat mayat itu, Ibu Madin jatuh pingsan—atau berpura-pura pingsan—karena mengira itu mayat anaknya. Penduduk jadi percaya, memanglah benar Madin telah meninggal.

Setelah perasaan kehilangan melingkupi ibu Madin, juga warga kampung, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya datang ke kampung pada suatu malam. Lelaki itu mengaku bernama Madin. Warga kampung yang setuju bahwa ia telah lama meninggal tak berani mendekat. Ibu Madin begitu shock hingga seperti hendak terkena serangan jantung. Menyadari lelaki di hadapan mereka itu bukan mayat hidup, warga kampung mulai mendekat. Mereka ingin mendengarkan cerita Madin yang telah berkelana dari tempat yang jauh.

Kepada warga kampung, Madin menceritakan segala yang ia lalui. Ia bercerita, suatu hari rumah besar yang ia tempati itu dihebohkan oleh suatu gempa yang dahsyat. Gempa itu terjadi akibat sebuah suara yang menggelegar. Orang-orang, termasuk Madin yang—berwujud babi—ada dalam rumah itu berhamburan melarikan diri.

Belakangan Madin ketahui, suara itu ialah ajakan azan dari masjid di dekat Sungai Cisadane. Kepada warga, sekali lagi, Madin menceritakan usahanya melarikan diri dari rumah itu, dengan bacu compang-camping, sambil berlinangan air mata. Ibunya masih tergeletak di halaman rumah. Warga kampung tak pernah tahu, ia tetap hidup atau sudah mati.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel