Cerita 13 Jemaah Haji Terpilih 2020 Asal Indonesia, Muhammad Wahyu Mendaftar di Hari Terakhir

Loading...
Loading...


Meski dunia sedang dilanda wabah pandemi Covid-19, Pemerintah Arab Saudi akhirnya memutuskan tetap menggelar ibadah haji. Hanya saja ibadah haji tahun 2020 ini digelar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Jika pada tahun 2019 silam ibadah haji diikuti lebih dari 2,5 jemaah, maka pada tahun ini ibadah haji hanya diikuti 1.000 jemaah. Mereka adalah jemaah asal Arab Saudi dan warga luar Arab Saudi yang tinggal di Arab Saudi saja.

Selain itu, warga Arab Saudi dan warga luar Arab Saudi yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini pun diseleksi terlebih dahulu oleh otoritas haji Arab Saudi. Dari 1.000 orang yang terpilih menunaikan ibadah Haji 2020 itu, hanya ada 13 warga Indonesia.

Satu di antara 13 warga Indonesia itu adalah Muhammad Wahyu, seorang guru di Sekolah Riyadh Indonesia (SRI). Wahyu baru setahun menetap di Arab Saudi. Kepada Konsul Haji-1 KJRI Jeddah, Endang Jumali, Wahyu menceritakan bagaimana ia akhirnya bisa terpilih naik haji 2020.

Dikutip dari akun Youtube Majlis Jumali, Wahyu menceritakan kepada Jumali bahwa dirinya baru ditugaskan mengajar di Riyadh pada Juli 2019 dan membawa keluarganya di Arab Saudi. Wawancara dengan Jumali itu dilakukan saat Wahyu masih menjalani karantina di hotel, sehari menjelang hari pertama pelaksanaan haji pada hari Tarwiyah (29 Juli).

Wahyu menuturkan, sejak jauh hari dia memang sudah berniat haji tahun ini. Namun, kemudian wabah corona datang sehingga Wahyu sempat ragu apakah akan ada haji pada tahun 2020.

Kemudian membaca pengumuman bahwa pemerintah Saudi tetap mengadakan haji, tapi jemaahnya hanya mereka yang menetap di Arab Saudi. Untuk ekspatriat, dipersilakan mendaftar secara online dalam waktu 5 hari. “Saya daftar hari kelima, masyaallah itu memang sudah waktu-waktu terakhir. Saya konsultasi pada orang tua minta ridhanya, semoga saya bisa, apalagi kan dibatasi, usia, dan berbagai hal-lah,” ujar Wahyu.

“Saya penginnya tuh bawa keluarga, terutama istri dan anak. Ternyata usia (dibatasi) minimal itu 20 tahun. Anak saya nggak bisa,” ujar Wahyu yang memiliki seorang anak balita ini.

Seperti diketahui, syarat bagi WN asing daftar haji 2020 antara lain belum pernah menunaikan ibadah haji, bersedia dikarantina sebelum dan sesudah haji, usia 20-50 tahun, dan tidak memiliki penyakit kronis seperti diabetes dan darah tinggi.

Wahyu kemudian mendaftarkan diri ke situs Kementerian Haji Arab Saudi dengan melengkapi syarat yang ada. “Alhamdulillah beberapa hari kemudian ada pengumuman, dikasih tahu teman. Saya cek, alhamdulillah saya lolos,” kata Wahyu gembira.

Bingung

Wahyu menjadi satu-satunya warga Indonesia di Riyadh yang lolos dalam seleksi haji itu. Sementara teman-teman Wahyu yang juga mengajar di Sekolah Indonesia Riyadh dan Sekolah Indonesia Jeddah tidak ada yang lolos. “Jadi saya sendiri (yang lolos), sempat bingung juga. Bingung campur bahagia, campur senang. Bingungnya karena tidak ada teman. Ya alhamdulillah, mungkin ini sudah panggilan. Ya, bismillah,” cerita Wahyu sambil tersenyum.

Setelah dinyatakan lolos, Wahyu dimasukkan dalam satu grup WA, diminta ke tempat pengecekan kesehatan untuk tes swab dan selanjutnya tidak boleh keluar rumah. Gelang pintar juga dipasangkan ke tangannya untuk mendeteksi mobilitas. Wahyu menjalani karantina kesehatan selama dua minggu. Satu minggu atas inisiatif sendiri dan satu minggu setelah menerima gelang pintar. “Jadi (saya) 2 minggu di rumah, tidak keluar-keluar,” ujarnya.

Pada tanggal 25 Juli 2020 (4 Zulhijah 1441 H), Wahyu diminta berangkat dari Riyadh ke Jeddah dengan naik pesawat Saudi Arabia Airlines. Semua biaya ditanggung pemerintah Saudi. Ternyata, ada 171 orang dari Riyadh yang lolos haji 2020.

Sesampai di Bandara Jeddah, rombongan dari Riyadh disambut oleh petugas haji. “Masyaallah (petugas) sangat-sangat ramah, sangat-sangat nyaman, sangat terbuka. Apalagi melihat saya dari Indonesia. ‘Wah, Indonesia, masyaallah, apa kabar semuanya’, ya seperti itulah orang Arab kalau menyambut kita itu,” cerita Wahyu, jemaah haji Indonesia satu-satunya dari Riyadh.

Setelah tiba di Jeddah, Wahyu dan rombongan dibawa ke Makkah dan diisolasi di Hotel Four Points. Di sini, jemaah haji dikelompokkan dalam grup WA, ada grup bahasa Inggris dan grup bahasa Arab.

Dari sinilah Wahyu tahu ada sejumlah WNI juga yang terpilih  seleksi naik haji seperti dirinya. “(Di grup WA jemaah) kenalan di situ, (menyebut) nama, negara, testimoni gimana tentang haji tahun ini, barulah tahu (ada) WNI,” ungkapnya.

Dari komunikasi lewat WA itu, Wahyu mendapat kontak 5 jemaah dari Indonesia. Mereka antara lain tinggal di Madinah, Makkah, dan Jeddah. Selama diisolasi di hotel, Wahyu tidak boleh keluar kamar sama sekali. Jika keluar, maka akan didiskualifikasi.

Dalam kesempatan itu, Jumali juga bertanya kepada Wahyu apakah jemaah haji berjumlah 1.000 atau 10.000, dua angka yang muncul selama ini. Wahyu kemudian menjawab bahwa berdasar dari apa yang dilihatnya, jumlahnya sekitar 1.000.

Selain Wahyu, warga negara Indonesia yang juga mendapat kesempatan naik haji tahun ini adalah Endan Suwandana, Ahmad Sujai, Huda Faristiya, 'Abdul Muhaemin, Siri Marosi, Muhammad Toifurrahman, Ata Farida, Eni Wahyuni, Irma Tazkiya, M Zulkarnain, Ali Muhsin Kemal, dan Akram Hadrami.

Sumber : tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel