Kiai NU di Sulsel Meninggal Tidak Lama Usai Dampingi Istri Hadapi Sakaratul Maut

Loading...
Loading...


H Muhammad Idrus Makkawaru (76), kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Agama Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) meninggal dunia pada Minggu lalu. Idrus mengembuskan napas terakhir di rumah putra bungsunya di Kabupaten Gowa.

Sosok yang enggan menisbahkan sebutan Kiai di depan namanya ini wafat menyusul istri tercinta, Siti Saniah (64) yang wafat lebih dulu kurang lebih satu jam sebelumnya karena serangan jantung. Ulama yang tetap aktif belajar hingga di usia senjanya ini meninggalkan lima anak dan 10 cucu.

Anak sulung almarhum, Ahmad Mujahid (51) yang dikonfirmasi mengatakan, Siti Saniah wafat sekitar pukul 18.30 WITA karena serangan jantung yang mulai dirasakan sekitar pukul 16.30 WITA.


"Almarhum bapak menyaksikan proses terakhir ibu sebelum meninggal dunia dan membimbingnya ucapkan dua kalimat syahadat," tutur Ahmad Mujahid, Jumat (21/8).

Sekira 30 menit jenazah Siti Saniah berada di tempat tidur, karena Idrus belum bersedia jenazah istrinya dipindahkan. Namun karena pertimbangan semakin banyak pelayat, akhirnya jenazah diangkat dan dipindahkan ke ruang tamu.

"Saat jenazah ibu diangkat itulah, bapak yang tadinya tampak tegar tiba-tiba meneteskan air mata. Lima hingga 15 menit kemudian, bapak keluhkan sakit di dada dan keluar keringat dingin. Dan berproseslah juga bapak hadapi sakaratul maut. Jadi jeda waktu wafatnya ibu dan bapak itu kurang lebih satu jam," tutur Ahmad Mujahid.

Sebelum ibu dan bapak wafat, kata Ahmad Mujahid, keduanya masih sempat bercanda. Pasalnya, bapak yang harus dibantu tongkat saat berjalan, tiba-tiba jalan keluar kamar.

"Ibu menegur dan bilang, iih sudah bisa jalan jauh ayah. Disusul canda-canda berikutnya," imbuh putra sulung almarhum almarhumah ini.

Rupanya itulah candaan terakhir dua pasang anak manusia yang bersama hingga usia senja dan bersama menemui Ilahi. Kini pasangan sejati itu di tempat peristirahatan terakhir di daerah asal, Kabupaten Bantaeng.

Kesan mendalam yang ditinggalkan almarhum ke anak-anaknya soal semangat belajar, senantiasa haus akan ilmu.

"Almarhumah bapak itu aktif belajar hingga akhir hayatnya. Diantar anak atau keponakan, bapak kerap datangi Masjid Raya di Makassar untuk mendengar ceramah Anregurutta Prof Dr KH Farid Wajidi dan di masjid Telkom untuk mendengarkan ceramah Anregurutta DR KH Mustamin Arsyad," tutur Ahmad Mujahid.

Selain semangat belajar, almarhum juga rendah hati. Meski orang-orang memanggilnya kiai tapi dia enggan menuliskan kata kiai pendamping namanya. "Bapak tidak merasa kiai, itu alasannya," terang Ahmad Mujahid.

Sumber : merdeka.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel