Suami Ketahuan Bohong Merekayasa Kematian Istri Mudanya, Istri Tua dan Anak Pilih Bantu Polisi

Loading...
Loading...


Pada Selasa (11/8/2020), polisi mengungkap pengakuan Suami berinisial M (40) yang membunuh istri muda Arini di rumah kediamannya di Dusun Karang Anyar, Kampung Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Aceh.

Agar seolah-olah tewas karena bunuh diri, M menggantung sang istri kedua di truknya.

Padahal Arini telah dibunuh M sebelumnya. 

Kapolres Bener Meriah, AKBP Siswoyo Adi Wijaya SIK, melalui Kasat Reskrim, Iptu Rifki Muslim SH, kepada wartawan, Kamis (13/8/2020) mengatakan bahwa suami sempat tak mau mengakui perbuatannya.

Dikutip TribunWow.com dari Serambinews.com pada Sabtu (15/8/2020), Iptu Rifky mengatakan bahwa M hanya mengaku memukul istri keduanya.
Padahal menurut keterangan anak pelaku dari istri pertama M, yakni DP (20) mengatakan bahwa ayahnya juga menggantung korban di dinding truk.

Sebelum digantung, DP mengaku melihat ayahnya mencekik korban.

"Pelaku hanya mengakui bahwa ia memukul istri keduanya tersebut. Padahal, DP (anak M) mengaku melihat ayahnya mencekik korban."

"Bahkan, menurut keterangan saksi, tersangka lah yang menggantung korban di bak truk tersebut hingga seolah-olah istrinya bunuh diri,” jelas Iptu Rifky.

Padahal berdasarkan hasil visum ditemukan luka di mulut, tangan, dan kaki korban serta kehabisan oksigen.


Iptu Rifky mengatakan, leher korban sempat diikat dengan jilbab.

Saat ini pihaknya juga tengah meminta keterangan dari istri pertama pelaku (MN) dan DP.

Iptu Rifky menjelaskan, MN dan DP tidak ikut ditahan lantaran bertindak kooperatif.

Mereka juga membantu polisi dalam memberikan keterangan untuk segera menyelesaikan kasus ini.

“Selanjutnya, kita akan panggil saksi-saksi lain untuk memperlancar pengusutan kasus ini,” ujar Iptu Rifki.

Sementara itu, Iptu Rifki menjelaskan bahwa pembunuhan terjadi bermula ketika korban menagih hutang kepada pelaku sebesar Rp 37 juta dan dua handphone (HP) yang dipinjam M.

Akibat permasalahan itu, Arini meminta pisah ranjang dengan suami.

Sebelum peristiwa nahas itu, mereka sempat berebut kunci truk.

Kunci truk yang selama ini dibawa korban diminta paksa oleh suami.

“Kunci truk tersebut selama ini dipegang oleh korban dan ia tidak memberikan kepada suaminya jika pelaku tak membayar utangnya. Saat M meminta kunci truk, terjadinya perkelahian antara korban dan pelaku,” ujar Iptu.

Lalu, saudara M menelpon keluarga mereka hingga datanglah MN dan DP untuk menjemput pelaku.

Saat hendak pergi, korban mengejar pelaku hingga kembalilah suami dan istri keduanya ke rumah.

Sedangkan, MN dan DP sempat menunggu di pinggir jalan yang berjarak sekira 20 meter dari rumah M.

Di saat itulah M kembali berkelahi dengan korban hingga nekat membunuh istri keduanya.

Status Sedih Istri Muda di Whatsapp Story

Anak Arini dari pernikahan sebelumnya, UM menceritakan beberapa pesan ibundanya sebelum AR tewas ditangan suaminya sendiri M (40).

AR yang merupakan istri kedua tersangka diketahui dibunuh oleh M di kediaman mereka di Kabupaten Benar Meriah, Aceh, Selasa (11/8/2020).

UM mengatakan sebelum ibunya tersebut tewas, dirinya sempat dihubungi langsung oleh korban dan melihat ada pesan-pesan terselubung di status WhatsApp (WA) ibundanya itu.

Dikutip dari serambinews,com, Kamis (13/8/2020), berbeda dengan ibunya yang tinggal di Aceh, UM sendiri tinggal bersama neneknya di Medan, Sumatera Utara.

Tak lama sebelum ibunya meninggal, UM mengaku kerap melihat ada hal yang berbeda dari status WA ibunya.

Diceritakan UM, status WA ibunya saat itu berisi tulisan-tulisan sedih seakan-akan yang bersangkutan sedang berada dalam masalah.

Namun UM sendiri tak pernah menanyakan langsung kepada ibunya apa maksud dari status bernuansa sedih tersebut.

“Saya sering melihat status WhatsApp Mama, tapi tidak pernah bertanya terkait status tersebut,” bebernya.

Selain statu WA, satu hari sebelum AR tewas dibunuh suaminya, AR sempat menghubungi UM pada Senin (10/8/2020) malam, sekira pukul 19.00 WIB.

UM saat itu tengah menonton tayangan televisi bersama sang nenek.

Tiba-tiba UM mendapat telepon masuk yang ternyata berasal dari ibunya.

Ketika mengangkat telepon tersebut, korban langsung menceritakan keinginannya untuk pulang ke Medan.

“Mama di sini nggak tahan, Mama pengen pulang, Mama di sini dipukuli dek,” ujar UM, meniru ucapan Mamanya.

UM pun menjawab agar ibunya tersebut bisa segera pulang ke Medan.

Tak terlintas di benak UM bahwa waktu itu akan menjadi kali terakhir dirinya berbincang dengan sang ibu.

“Saya hanya bilang ke mama, ya sudah ma, pulang ke sini, saya tidak menanyakan lebih lanjut kapan mama pulang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui wartawan di RSUD Muyang Kute, Bener Meriah, Kamis (13/8/2020).

Sumber : tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel