Ucapan Muhadjir Bahwa Nikah Sesama Miskin Akan Melahirkan Orang Miskin Dicap Sakiti Rakyat Kecil

Loading...
Loading...


Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto meminta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tidak menjadikan pernikahan antara orang miskin sebagai kambing hitam peningkatan angka rumah tangga miskin di Indonesia.
Menurutnya, pernyataan Muhadjir itu kurang tepat karena akan menyinggung perasaan masyarakat yang kurang beruntung dari sisi ekonomi.

"Jangan mengkambinghitamkan orang miskin nikah sama orang miskin," kata Yandri kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/8).

Dia menyatakan bahwa tidak ada orang yang mau hidup dalam kondisi miskin. Wakil Ketua Umum PAN itu juga menilai pernyataan Muhadjir yang menyinggung pernikahan antara orang miskin sangat menyakiti hati masyarakat di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Menurutnya, pernyataan ini juga bisa membuat nasib masyarakat miskin semakin terpuruk serta hilang semangat untuk keluar dari kemiskinan.

"Orang miskin mau nikah sama siapa, bisa enggak Pak Menko mencarikan jodoh orang kaya? Enggak ada orang hidup mau miskin," kata Yandri.

Yandri pun menilai langkah pemerintah membuat program pembekalan bagi para calon pengantin sebagai solusi memutus mata rantai rumah tangga miskin yang semakin hari terus bertambah tidak tepat.

Menurut dia, kemiskinan tidak terkait dengan pembekalan yang diberikan kepada pasangan calon pengantin yang hendak menikah.

"Itu solusi yang tidak terlalu mendasar, itu cuma ceramah-ceramah pembekalan. Faktanya, kalau kemiskinan tidak terlalu banyak sangkut paut dengan pranikah mereka," ujarnya.

Yandri melanjutkan, pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Salah satu kebijakan yang bisa diambil pemerintah, menurutnya, menghentikan impor berbagai barang yang sebenarnya bisa diproduksi di Indonesia.

Selain itu, tambahnya, mengurangi angka keluarga miskin di Indonesia juga bisa dilakukan pemerintah dengan mempekerjakan masyarakat miskin di banyak lahan yang menganggur hingga saat ini

"Salah satunya hentikan impor karena bangsa ini cukup banyak potensi sumber daya alam. Bagaimana mungkin masyarakat kita yang sebagian besar petani tapi jagung, beras, kedelai, ampas tahu, hingga cangkul diimpor. kalau itu disetop dan dikembalikan dananya ke masyarakat, [anggaran] impor itu akan bagus sekali untuk mengatasi angka kemiskinan," tutur Yandri.

"Sekarang di Indonesia lahan menganggur luar biasa banyak, artinya tidak dikelola. Mesir yang wilayahnya gurun pasir bisa menjadi sumber buah seperti anggur, mangga, jeruk, pisang, dan sebagainya. Kita negara subur makmur tidak bisa menghasilkan itu, malah impor," imbuhnya.

Terpisah, anggota Komisi VIII DPR Fraksi PPP, Muslich Zainal Abidin turut menyayangkan dengan Muhadjir yang berbicara demikian. Menurutnya tidak laik disampaikan oleh seorang menteri.

"Pernyataan seperti ini tidak laik disampaikan oleh pejabat tinggi yang seharusnya memotivasi masyarakat, bukan malah membuat mereka pesimis," kata Muslich lewat siaran pers.

Menurutnya, pemerintah lebih baik fokus terhadap permasalahan yang tengah dihadapi saat ini, yakni bayang-bayang resesi akibat pandemi virus corona. Muchlis yakin itu lebih penting ketimbang menyampaikan hal-hal yang bisa menyakiti masyarakat.

"Jadi, saya minta berhentilah membuat gaduh di tengah keterpurukan kita saat ini. Tahun 2020 ini saja sudah 1,7 juta korban PHK yang tentunya butuh perhatian khusus dari pemerintah," katanya.

Sebelumnya, Muhadjir mengatakan jumlah rumah tangga miskin saat ini mencapai sekitar 5,7 juta keluarga yang tersebar di seluruh Indonesia.

Muhadjir menyebut jumlah rumah tangga miskin terus meningkat lantaran keluarga miskin menikah dengan keluarga miskin lain, sehingga memunculkan rumah tangga miskin baru.

"Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru," kata dia, kata Muhadjir saat menjadi pembicara inti dalam webinar yang digelar oleh Kowani, Selasa (4/8).DPR Minta Menko PMK Muhadjir Tidak Kambing Hitamkan Pernikahan Orang Miskin

Sumber : cnnindonesia.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel