WASPADA! Puluhan Aplikasi di Play Store Berbahaya, Berikut Daftarnya

Loading...
Loading...


Ada puluhan aplikasi di Play Store yang ditarik oleh Google karena dianggap membahayakan smartphone Android.

Sebagian besar dari aplikasi tersebut adalah perangkat lunak untuk mengedit foto.

Namun, aplikasi itu dianggap sebagai adware alias ada iklan yang disuntikkan di dalamnya.

Dengan demikian, pengguna yang memasang aplikasi itu akan mendapati iklan di ponsel pintarnya.

Tidak hanya sekadar iklan biasa karena iklan tersebut terus muncul dan membombardir smartphone,

Melansir Kontan yang mengutip dari 91Mobiles, dari sebuah tim intelejen Satori White Ops melakukan investigasi bertajuk "CHARTREUSEBLURE" dan menemukan 29 aplikasi di Playstore yang terindikasi berbahaya.

Aplikasi di Playstore yang dilarang ini kebanyakan telah di download 3,5 juta pengguna HP Android di seluruh dunia.

Berikut daftar 29 aplikasi di Playstore yang terindikasi berbahaya dan ditarik Google :

Auto Picture Cut
Color Call Flash
Square Photo Blur v2.0.5
Square Photo Blur v7.0
Magic Call Flash
Easy Blur
Image Blur
Auto Photo Blur
Photo Blur
Photo Blur Master
Super Call Screen
Square Blur Master
Square Blur
Square Blur Photo
Smart Photo Blur
Super Call Flash
Smart Call Flash
Blur Photo Editor
Blur Image
Super Blur
Square Image Blur
Super Blur Photo
Super Photo Blur
Photo Blur Editor
Pro Blur Photo
Auto Photo Cut
Smart Call Screen
test.com.flash.call.flashcall.cool
com.auto.photo.editor.background.eraser.tool
Jika Anda menemukan aplikasi di Playstore seperti pada daftar di atas, disarankan untuk menghapusnya. Secara keseluruhan aplikasi di Playstore yang berbahaya ini mengandung kata 'blur'.

Jadi jika di HP Android Anda ditemukan aplikasi dengan nama yang mirip mungkin bisa dihapus segera. Jika tidak ditemukan di halaman aplikasi, Anda bisa menghapusnya melalui pengaturan.

Heboh "Kitab Suci Aceh" di Playstore

Aplikasi 'Kitab Suci Aceh' di Play Store meresahkan masyarakat.

Baru-baru media sosial dihebohkan dengan adanya aplikasi bernama Kitab Suci Aceh di Play Store.

Aplikasi tersebut mencatut nama ‘Kita Suci Aceh’, menggunakan bahasa Aceh, tetapi berisikan terjemahan kitab Taurat, Zabur, dan Injil.

Reaksi pun bermunculan, mulai dari protes keras Pemerintah Aceh, hingga petisi yang ditujukan kepada Google dan Presiden Joko Widodo.

Aplikasi kontroversi yang dinamakan ‘Kita Suci Aceh’ ternyata dirilis oleh Faith Comes By Hearing di Google Play Store sejak 7 Agustus 2019 dengan updating terakhir pada 18 September 2019.

Meski demikian, aplikasi ini baru diketahui dan langsung heboh sebulan belakangan ini.

Pada bagian penjelasan tentang aplikasi tersebut dijelaskan bahwa aplikasi ini merupakan Kitab Suci Nusantara (Taurat, Zabur, dan Injil) terjemahan bahasa Aceh.

Tak heran jika semua tulisan teks yang terdapat di dalamnya menggunakan bahasa Aceh.

Aplikasi sebesar 23,50 MB ini tidak hanya dirancang untuk dibaca, tetapi juga didengar.

Karena itu, aplikasi ini juga dilengkapi dengan audio.

Lalu siapa sebenarnya Faith Comes By Hearing yang merilis aplikasi tersebut?

Dilansir Wikipedia, Faith Comes By Hearing adalah organisasi nirlaba 501 internasional yang merekam dan menyediakan alkitab dalam bahasa-bahasa di dunia.

Di Google Play Store sendiri, tercatat ada 126 aplikasi yang dirilis oleh organisasi anggota Forum Agensi Alkitab Internasional dan Aliansi Global Wycliffe ini.

Kemunculan aplikasi ini kontan saja mengundang reaksi dari publik Aceh. Pemerintah Aceh bahkan melayangkan surat resmi kepada Google Indonesia.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, melalui suratnya bertanggal 30 Mei 2020, menyampaikan keberatan dan protes kepada Managing Director PT Google, di Jakarta.

"Sehubungan dengan munculnya aplikasi ‘Kitab Suci Aceh’ di Google Play Store yang dipelopori oleh Organisasi Kitab Suci Nusantara (kitabsucinusantara.org), kami berpendapat bahwa Google telah keliru dalam menerapkan prinsip General Code of Conduct-nya yaitu ‘Don’t Be Evil’ dan aturan-aturan yang tertuang dalam Developer Distribution Agreement-nya yang sangat menjunjung tinggi local law (hukum local)," ujar Nova dalam suratnya.

"Karena itu, kami atas nama Pemerintah dan masyarakat Aceh menyatakan keberatan dan protes keras terhadap aplikasi tersebut," lanjut Nova lagi.

dapun poin-poin keberatan yang disampaikan Nova, yaitu penamaan aplikasi yang tidak lazim secara bahasa karena nama ‘Kitab Suci Aceh’ menunjukkan bahwa kitab suci tersebut hanya milik masyarakat Aceh.

Padahal lazimnya sebuah kitab suci adalah milik umat beragama tanpa batas teritorial, sehingga nama aplikasi seolah-olah menggambarkan bahwa mayoritas masyarakat Aceh adalah penganut kitab suci yang ada dalam aplikasi tersebut.

"Padahal kitab suci mayoritas masyarakat Aceh adalah Alquran," pungkas Nova.

Selanjutnya, peluncuran aplikasi tersebut dinilai sangat provokatif karena semua penutur bahasa Aceh di Aceh beragama Islam.

Oleh karena itu aplikasi ‘Kitab Suci Aceh’ pada Google Play Store dapat dipahami sebagai upaya mendiskreditkan Aceh, pendangkalan aqidah dan penyebaran agama selain Islam kepada masyarakat Aceh.

Hal tersebut, kata Nova, bertentangan dengan Pasal 28E Ayat (1) dan (2) UUD 1945, Pasal 45A Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 21 Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Tempat Ibadah, serta Pasal 3 dan 6 Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pembinaan dan Perlindungan Aqidah.

Selain itu, aplikasi tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Aceh yang berdampak kepada kekacauan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan dapat menimbulkan konflik horizontal (chaos).

"Munculnya aplikasi ini telah menuai berbagai bentuk protes di kalangan masyarakat dan media sosial, baik secara pribadi maupun kelembagaan yang dapat mengancam kerukunan umat beragama (a threat to religious harmony) di Aceh dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," bunyi surat Nova.

Sumber : tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel