Saidiman: Pelajaran Agama Perlu Dihapus dari Kurikulum Sekolah Negeri

Loading...
Loading...

Peneliti Politik Saidiman Ahmad menilai mata pelajaran agama perlu dihapus dari kurikulum sekolah negeri.

Pernyataan itu disampaikan Saidiman di tengah pembicaraan tentang rumor mata pelajaran sejarah akan dihapus dan hanya menjadi mata pelajaran pilihan.

"Sebenarnya yang perlu dihapus dari kurikulum sekolah negeri itu bukan pelajaran sejarah, tapi pelajaran agama. Biarlah itu jadi urusan keluarga atau sekolah swasta/privat saja," tulis @saidiman di Twitter yang dikutip AKURAT.CO, Senin (21/9/2020).

Cuitannya ini mendapat tanggapan dari netizen. Ada yang sependapat dengan Saidiman.

"Setuju buanget. Pelajaran agama Dihapus, sejarah Jangan. Sebagai orangtua saya cemas jika Pelajaran agama diajarkan oleh orang lain Kepada anak-anak saya. Sebab saya punya standar tertentu dan nilai-nilai Tertentu yang belum tentu sama dengan guru disekolahnya," kata @charlestulis.

Namun ada pula yang berbeda pandangan dengan cuitan Saidiman mengenai penghapusan pelajaran agama.

"Sedangkan ada pelajaran agama saja kelakuan generasi sekarang parah. Apalagi kalau ndak ada. Bar-bar ambyar lah ! Mau dibawa kemana negara ni. Saya paham maksud anda. Tapi jangan salahkan agamanya. Sampai sini paham ya!" kata @abil110792.

"Tapi dalam pelajaran agama itu ada bab akhlak. Isinya tentang bagaimana adab bertetangga, adab menuntut ilmu, adab berteman, adab bertamu, yang itu jauh lebih berguna untuk sehari-hari daripada sekedar hafal tanggal proklamasi," kata @agniandra7.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan tidak ada perubahan dalam kurikulum nasional di 2021, terlebih untuk mata pelajaran sejarah. Sebab belakangan beredar isu bahwa mata pelajaran sejarah akan dihapus dan hanya menjadi mata pelajaran pilihan.

“Saya ingin mengucapkan bahwa tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” kata Nadiem Makarim lewat video yang diunggah di channel Youtube Kemendikbud RI, Minggu (20/9/2020).

Kata dia, isu ini melebar setelah draf penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional tersebar.

"Isu ini keluar, karena ada presentasi internal yang keluar ke masyarakat dengan salah satu permutasi penyederhanaan kurikulum. Kami punya banyak (permutasi), puluhan versi berbeda yang sekarang tengah melalui FGD dan uji publik," kata Nadiem.

Akan tetapi, Nadiem menyebut tidak ada yang menjamin permutasi tersebut akan menjadi keputusan akhirnya. Ia juga menjelaskan penyederhanaan kurikulum tidak akan terjadi sampai 2022 mendatang.

"Di tahun 2021 kami akan melakukan berbagai macam prototyping di sekolah penggerak yang terpilih, dan bukan dalam skala nasional. Jadi sekali lagi, tidak ada kebijakan apapun di tahun 2021 dalam skala kurikulum nasional, apalagi penghapusan pelajaran sejarah," ujarnya.

Sejarah memiliki arti penting bagi sebuah bangsa, dan menurutnya, keberadaannya signifikan di dalam kurikulum pendidikan.

Sumber : akurat.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel