Soal Penyerangan Syekh Ali Jaber, BNPT: Meski Ada Bukti Gangguan Jiwa Kami Tetep Belum Percaya

Loading...
Loading...


Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dalam rangka membahas anggaran tahun 2021 dengan Anggota Komisi III DPR RI di komplek Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Dalam rapat tersebut, Ketua BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar juga membahas terkait dengan indsiden penusukan terhadap Syekh Ali Jaber.

“BNPT dan Polri akan bekerjasama melakukan penyelidikan atau pendalaman perihal dengan peristiwa tersebut, apakah terafiliasi dengan kelompok terorisme,” ujarnya.

Menurut Boy Rafli, berdasarkan informasi yang diterima oleh BNPT dari pihak keluarga, bahwa pelaku yaitu Alfian Andrian mengalami gangguan jiwa.

Namun, pihak BNPT mengaku tak serta merta percaya dengan keterangan yang diberikan oleh keluarga pelaku, meski ada bukti kejiwaan tersangka yang bermasalah dari sebuah rumah sakit di Lampung pada 2016 lalu.

“Kita tidak percaya, tetap akan kita selidiki lebih mendalam apakah dia benar-benar gila atau pura-pura gila,” ungkapnya kepada Anggota Komisi III yang menghadiri RDP.

“Sampai saat sekarang ini BNPT dan Polri sedang melakukan pemeriksaan psikologis pelaku,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Syekh Ali Jaber ditusuk seorang pria tak dikenal pada Minggu (13/9) kemarin.

Peristiwa ini terjadi saat Syekh Ali Jaber mengisi ceramah di Masjid Falahuddin, Bandar Lampung. Akibatnya, tangan kanan pendakwah itu terluka akibat tusukan.

Peristiwa ini juga mendapat reaksi dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Lampung.

Mereka mendesak kepolisian yang menangani kasus penusukan ulama terkenal di Indonesia Syekh Ali Jaber seterang-terangnya.

Pengungkapan kasus dan motif penusukan tersebut, menjadi penting agar tidak terulang kembali kasus yang sama di tempat berbeda.

Polisi juga sebelumnya sudah menetapkan status tersangka kepada Alfin Andrian.

Alfin dijerat pasal 351 KUHP; (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat, yang berakibat hukuman di penjara paling lama lima tahun.

Sumber : pojoksatu.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel