Profil Gus Nur yang Ditangkap karena Hina NU, Benarkah Bukan Anak Kiai dan Tak Pernah Mondok?

Loading...
Loading...

Pendakwah Sugi Nur Raharja alias Gus Nur ditangkap Bareskrim Mabes Polri, Sabtu (24/10/2020).

Tepat tengah malam pukul 00.00, ia ditangkap di kediamannya di Jalan Cucak Rawun Raya 15L No 6 RT 2 RW 14 Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Penangkapan itu diduga terkait dengan kasus ujaran kebencian yang sempat dilaporkan Nahdlatul Ulama (NU).

Lantas, siapa sebenarnya sosok Gus Nur?

Profil Gus Nur

Sugi Nur Raharja atau Gus Nur dikenal sebagai seorang pendakwah.

Ia lahir di salah satu desa di Banten pada tanggal 11 Februari 1974.

Saat usianya menginjak dua tahun, Gus Nur pindah ke rumah kediaman ibunya di Bantul.

Setelah itu, Gus Nur pindah ke sebuah desa yang bernama Gempeng, kecamatan Bangil, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Sosok Gus Nur terbilang cukup kontroversial.

Sugi Nur Raharja atau Gus Nur dikenal sebagai seorang pendakwah.

Ia lahir di salah satu desa di Banten pada tanggal 11 Februari 1974.

Saat usianya menginjak dua tahun, Gus Nur pindah ke rumah kediaman ibunya di Bantul.

Setelah itu, Gus Nur pindah ke sebuah desa yang bernama Gempeng, kecamatan Bangil, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.


Sosok Gus Nur terbilang cukup kontroversial.

Bahkan, dalam video YouTube Cokro TV, Rabu (21/10/2020), pegiat media soial, Denny Siregar mengungkap rekam jejak pria 46 tahun ini.

Menurut Denny, Gus Nur tak pantas dipanggil Gus lantaran bukan anak kiai, sedang panggilan itu hanya diperuntukkan untuk anak kiai.

Bahkan, Gus Nur diketahui tak pernah mengenyam pendidikan di bangku pesantren.

Sebelum dikenal sebagai penceramah, Gus Nur telah melewati beragam pekerjaan yang terbilang keras.

Ia pernah bekerja sebagai pemain debus mengikuti jejak ayahnya.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan.

Selama menjalani hidup yang keras itu, Denny menyebut jika Gus Nur beberapa kali terlibat tindak kriminalitas.

Selain menjadi pemain debus, Gus Nur juga pernah bekerja sebagai penjual obat keliling.

Pekerjaan itu dilakoninya selama bertahun-tahun.

Di samping berjualan obat, ia juga mulai belajar agama.

Dari situ lah, Gus Nur dinilai mulai membangun citra sebagai seorang penceramah.

Lambat laun, dirinya mulai dikenal sebagai seorang ustadz dan diundang untuk berceramah di berbagai kesempatan.

Dalam setiap ceramahnya, Gus Nur kerap melontarkan kalimat provokatif dan kebencian terhadap NU dan Banser.

Kasus ke-2

Pada kasus sekarang ini, Gus Nur dilaporkan Aliansi Santri Jember ke Polres Jember.

Ia dilaporkan karena diduga menghina NU dalam sebuah video wawancara dengan Refly Harun di Youtube.

“Kami melaporkan atas komentarnya di media sosial Youtube saat acara bersama saudara Refly Harun,” kata Ketua Dewan Pembina GP Anshor Jember Ayub Junaidi.

Pernyataan yang dinilai menghina adalah saat Gus Nur mengumpamakan NU sebagai bus umum yang supirnya mabuk, kondekturnya teler, kernetnya ugal-ugalan, dan isi busnya adalah PKI, Liberal dan sekuler.

Mengenai hal ini, Gus Nur akhirnya angkat bicara.

Ia menanggapi santai laporan tersebut.

Alasannya, Gus Nur mengaku sudah sering dilaporkan ke polisi.

“Pertama, biasa saja karena saya sudah sering dilaporkan sama Ashor-Banser,” kata Gus Nur saat dihubungi Kompas.com, Selasa (20/10/2020).

Gus Nur juga merasa bahwa dirinya tak bisa akur dengan Anshor.

“Anshor-Banser akan selalu melihat saya salah, selalu jelek, itu tidak bisa dipaksa sampai kapan pun,” terang dia.

Kendati demikian, Gus Nur mengaku masih ada anggota Banser yang bersikap baik.

Bahkan, ia mengaku berteman baik dengan salah satu cucu pendiri NU yang telah sepuh.

“Yang melaporkan saya ini mungkin salah satu yang tidak bisa menerima kebaikan saya,” tambah dia.

Para pelapor juga tersinggung dengan ucapan Gus Nur tentang pimpinan PBNU dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

Padahal, kata dia, banyak pihak yang mengkritik NU.

“Yang lebih sadis dari saya banyak sebenarnya, di Youtube banyak,” terang dia.

Sumber : tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel