Cerita Syekh Ali Jaber, Mau Jadi WNI Harus Bayar Uang Rp 150 Juta, Tapi Takdir Allah Malah Gratis

Loading...
Loading...

 


Meninggalnya ulama Indonesia Syekh Ali Jaber, pastinya meninggalkan duka bagi umat Islam Indonesia.


Ternyata, perjalanan panjang Syekh Ali Jaber sebelum jadi WNI. Meski, dalam sejarah keluarga Syekh Ali Jaber berasal dari Indonesia.


Di tausiyah Syekh Ali Jaber tiga bulan lalu yang di-posting di YouTube, Syehk Ali Jaber menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi WNI.


Dalam ceramahnya yang berdurasi 19.30 menit ini, Syekh Ali Jaber mengungkapkan kunci sukses dunia akhirat, percaya takdir.


Ia bisa berkata begitu, karena ia banyak belajar perjalanan hidup bersama takdir.


Ia menceritakan, saat SD di Madinah, hampir setiap hari sedekah 1 real untuk Palestina.


Dapat uang saku dari orangtua 3 real, 1 real untuk makan, 1 real untuk minum dan 1 real untuk sedekah Palestina.


Saat itu, muncul cita-cita ingin ke tanah suci Palestina. Bisa silaturahmi dan bisa ziarah ke Masjid Aqso.


Lama tinggal di Madinah, belum terkabul cita-cita itu. Hingga akhirnya, tahun 2008, dapat panggilan jadi Imam Salat di Masjid Sunda Kelapa.


Di Indonesia, sambutan masyarakat luar biasa. Setidaknya, menjalani tugas selama satu bulan menjadi iman tarawih dan tahajud. Meski saat itu, sebagai orang asing bisa mendapat kemudahan izin tinggal.


"Saat itu, Wapresnya Bapak Jusuf Kalla dan diberi kemudahan bolak balik Madinah Indonesia. Waktu itu, Subhanallah, kalau disuruh pilih Madina Mekkah Indonesia. Pastinya Madinah. Karena salat di Madinah bisa 100 kali lipat. Masjidil Haram 1000 kali lipat. Kalau bicara berkah, Madinah lebih berkah, suci lebih suci," ceritanya.


Tinggal di Indonesia tahun 2008, berlanjut tahun 2009, 2010. Karena baru pertama kali tinggal di Indonesia, ia belum bisa bahasa Indonesia.


Ada satu teman baik, mengajarkannya Bahasa Indonesia. Hanya empat ungkapan yakni Apa kabar, bagus, mau kemana, aku cinta kepadamu.


Jadi, saat itu setiap ia bertemu dengan orang, hanya itu yang diucapkan. Tidak tahu tanggapan orang, saya hanya mengucapkan itu saja.


"Ternyata, saya baru tahu, takdir itu baik dari Allah," katanya.


Tahun 2010, ia mengisi acara tausiyah dengan tema nikmatnya sedekah bersama Ustad Yusuf Mansyur. Saat pertama kali dakwah, Ustad Yusuf Mansur yang selalu menjadi translaternya.


Ustad Yusuf Mansur juga yang selalu mendampinginya menjadi translater saat berdakwah. Karena saat itu, belum lancar Bahasa Indonesia.


Ketika sedikit lancar bahasa Indonesia, ia malah ditinggal Ustad Yusuf Mansyur untuk berdakwah secara mandiri.


"Tahun 2011, saya diundang acara buka puasa bersama Presiden SBY. Duduk bersama Kedubes Negara Arab. Tiba-tiba saat itu, penceramah untuk pengisi kultum tidak datang karena macet. Saya didatangi protokol dan dikabarkan penceramah tidak datang. Saya diminta untuk mengisi, kaget apa yang diisi. Apalagi di depan Presiden. Adanya permintaan, saya mau," ungkapnya dalam ceramah.


Lanjut cerita Syekh Ali Jaber, sebelum kultum, protokol menyampaikan kultumnya jangan lama maksimal 10 menit. Kultum selama10 menit selesai, ternyata protokol salah hitung waktu berbuka. Masih berbuka masih menunggu waktu 40 menit lagi.


Di datangi seorang imam besar Masjid Istiqlal, meminta dirinya agar mengisi selawat, zikir dan lainnya. Lama dilaksanakan, tetapi waktu magrib belum tiba. Kembali, ia didatangi protokol. Presiden meminta isi lagi kultum sebelum Magrib.


"Saya kaget. Satu acara, dua kali isi kultum. Jadi saya naik lagi untuk isi kultum. Biasa, sebelum ceramah biasa pembukaan pakai bahasa Arab. Ketika itu, Bapak Presiden mengambil alat terjemahan di depannya. Begitu saya berkata, yang saya muliakan yang saya cintai, ayah kami Bapak Presiden RI, beliau kaget dan langsung turunkan alatnya," ungkap Syehk Ali Jaber.


Karena memang, menurut Syekh Ali Jaber, Presiden SBY melihatnya saat itu penampilannya bukan seperti orang Indonesia.


Setelah itu, ternyata takdir dari Allah baik lagi. Ia kembali dipanggil ke istana negara, dan malah Presiden SBY memanggil untuk duduk di dekatnya. Sambil ngobrol, tak menyangka ia mendapat kejutan luar biasa.


"Presiden berkata mau tidak jadi WNI. Padahal, sebelumnya sudah ada yang menawarkan jadi WNI. Tetapi diminta uang Rp 150 juta. Takdir baik, Allah kasih gratis. Presiden malah yang menawarkan.Malah Presiden mengungkapkan saat itu, kami sudah kasih kewarganegaraan WNI ke pemain bola. Tetapi belum pernah juara. Kalah Mulu. Sampai ke ke final kalah lagi. Mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk Indonesia. Ingat persis bahasa beliau itu," ceritanya.


Setiap ketemu Presiden SBY, selalu mengucapkan terima kasih kepadanya sudah jadi WNI. Ia membalas kepada Presiden juga terima kasih karena sudah menjadikan dirinya WNI.


Dari situlah, saat akan jadi WNI mendapat tantangan yang berat. Ada proses, salah satunya mundur dari warga negara Arab. Di situ tantangannya.


Di sini, Syekh Ali Jaber harus memilih pilih Arab atau Indonesia.


Sehingga, ia memutuskan untuk musyawarah kepada guru dan keluarga di Arab.


Guru dan keluarga mendorong, dimanapun berada agar bisa bermanfaat untuk orang banyak.


"Dengan Bismillah, saya beranikan diri mundur dari Negara Arab jadi WNI. Ternyata, keputusan ini menjadi takdir dan ternyata takdir itu baik. Selama Indonesia, diberikan kemudahan. Bisa Bahasa Indonesia dan sangat dimudahkan Allah. Jadi WNI, merupakan karunia dari Allah SWT, ungkapnya.


Bahkan, takdir baik dari Allah setelah menjadi WNI, ketika ia mengundang imam besar di Palestina untuk isi program Damai Indonesiaku. Saat bertemu, imam besar Masjidil Aqsa terkejut.


Saat itu imam besar berkata, pakaian Arab, wajah Arab, tapi bahasa pakai Bahasa Indonesia. Tahu dirinya WNI, ia diundang ke Palestina. Ternyata, di Palestina WNI di sana sangat istimewa.


"Di Arab, saya tidak bisa ke Palestina. Tetapi, jadi WNI bisa dengan mudah ke Palestina. Fasilitas dilengkapi, saya diperlakukan spesial di sana. Malah didorong jadi imam Salat magrib. Satu orang Indonesia jadi imam di Masjid Aqso, Ali Jaber," katanya.


Sesuai itu, ia teringat saat SD mempunyai cita-cita mau ke Palestina. Ternyata prosesnya panjang. Harus ke Indonesia dulu, baru dikabulkan Allah ke Palestina.


Syekh Ali Jaber juga mengungkapkan, lebih dari itu saja yang didapat dari takdir.


Ia juga menemukan sejarah keluarga. Ternyata kakekmya lahir di Indonesia tepatnya di Lombok. Bahkan, kakek buyutnya juga pejuang Indonesia.


"Saat saya sakit dan masuk rumah sakit, saya kaget. Dokter bilang, kok darahnya merah putih, Subhanallah. Itulah takdir dan kunci sukses dunia akhirat percaya takdir," pungkasnya.


Sumber : tribunnews

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel