Tinggalkan Anak-Istri demi Musibah Sriwijaya Air, Ungkap Kisah Uang Rp30 M dalam Kapal Tenggelam

Loading...
Loading...


Usia Makmur Ajie Panangian sudah lebih paruh baya. Pria berumur 54 tahun, meninggalkan istri dan anak-anaknya di Makassar, Sulawesi Selatan demi misi kemanusiaan; membantu mencari dan mengevakuasi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Ajie, sapaan Makmur Ajie Panangian, sudah belasan tahun terlibat misi kemanusiaan. Ia pun teringat kisah dan perjuangan, mengevakuasi korban Kapal Motor (KM) Lestari Maju yang tenggelam Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, tenggelam, 3 Juli 2018.

Hal yang paling dia ingat antara lain, mengamankan uang senilai Rp 30 miliar dari dasr laut. Bagaimana kisahnya? Ikut sampai tuntas tulisan ini.

Ya, umur Ajie, pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini berusia 54 tahun.

Pada usia lebih setengah abad itu, 12 tahun ke belakang diisi Makmur Ajie Panangian sebagai penyelam air laut.

Keterampilan menyelam bukan sekadar bersenang-senang, melainkan dimanfaatkan untuk hal mulia. Ajie mendedikasikan keterampilan menyelam dalam tugas kemanusiaan.

Ia terlibat menjalankan misi melakukan pencarian dan penyelamatan bersama tim SAR (Search dan Rescue), terhadap musibah di laut di Indonesia.

Misalnya, pada musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182, rute Jakarta – Pontianak, Kalimantan Barat, di laut sekitar Pulau Laki, Kabupaten Kepualauan Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1/2021) sore.

Terpanggil untuk tugas kemanusiaan itulah,  Adjie yang memiliki pengalaman menyelam bersama cabang olahraga  Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Makassar, bertolak ke Jakarta.

Selasa (12/1/2020), Ajie mendaftar sebagai relawan penyelam di Posko Terpadu di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ajie bukan seorang diri. Ia bersama beberapa rekan penyelam lainnya mendaftarkan diri sebagai relawan.

Menurut Ajie, sapaan akrabnya, setelah mendengar kabar soal musibah menimpa pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak jatuh ke laut, dia segera mendapat surat tugas dari POSSI.

"Saya dari Makassar. Jadi begitu kita mendengar kabar (jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di laut, Red) ini, kami sudah siap," kata Ajie ditemui di posko utama evakuasi Sriwijaya Air SJ-182, Dermaga JICT II, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021).

Ajie mengaku memiliki tim relawan penyelam.

“kejadian kemarin-kemarin, saya selalu hadir, mewakafkan diri untuk membantu. Itu jiwa kami, daripada untuk senang-senang, lebih baik skill ini kita pakai supaya berguna buat sesama," kata Ajie.

Ajie mempersiapkan sendiri peralatan selam seperti tabung oksigen dan semacamnya. Tidak ada beban yang ia bawa sejak berangkat dari Makassar.

Ia mengaku sudah sering kali terpanggil untuk kepentingan evakuasi manakala terdapat korban dalam kecelakaan di laut.

Setelah mendapat surat tugas dari POSSI, Ajie langsung terbang ke Jakarta. Dia tiba Senin (11/1/2021), hari kedua setelah kejadian.

Untuk menjalankan tugas sebagai relawan, Aji telah mendapat restu dari istri dan anak-anak.

"Anak dan istri sudah memberi izin. Mereka support saya. Jadi, kami pamit kepada keluarga, karena kami terpanggil untuk misi ini. Motivasinya untuk memanfaatkan ilmu yang ada pada kami untuk kemanusiaan," kata Ajie.

Meninggalkan anak dan istri demi misi kemanusiaan sudah dilakukannya selama bertahun-tahun menjadi penyelam POSSI.

Bagi Ajie, sebuah kewajaran apabila ada kecemasan dan rasa takut saat akan terjun ke bawah air.

Segala kekhawatiran itu selalu lenyap seketika saat Ajie berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tugas evakuasi korban kecelakaan di perairan merupakan panggilan jiwa bagi Ajie, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha Wisata Bahari POSSI Makassar.

"Rasa khawatir itu wajar terjadi di dalam diri setiap penyelam," kata Ajie, sembagi memberi alasa setiap masuk di dunia lain, yang belum pernah diselami, ia merasa waswas.

“Dunia yang sangat berbeda, dunia yang kita tidak tahu ada apa di bawah sana. Jadi kita percayakan kepada Tuhan, kita percaya, seperti ketuk pintu masuk ke rumah orang," kata Ajie memberi perumpaan.

Rogoh Uang Pribadi untuk Tiket Pesawat Makassar - Jakarta

Bukan saja meninggalkan anak dan istri di Makassar, di Pulau Sulawesi, Ajie juga merogoh uang pribadinya untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.

Ia mengaku mengeluarkan dana pribadi untuk biaya keberangkatan menunaikan tugas, seperti biaya membeli tiket pesawat terbang.

"Kami biaya sendiri. Karena kami di POSSI memang relawan yang tidak membutuhkan menunggu proposal misalnya. Enggak. Memang ini sudah panggilan, meskipun tidak sedikit biayanya," kata Ajie dia.

Uang tabungan yang dia kumpulkan sebagai pekerja selam komersial, tak sedikit dipakai untuk akomodasi dan transportasi selama berhari-hari menjadi relawan SAR.

"Intinya kami bergabung di POSSI, kita ini ada dari berbagai wilayah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke bisa kumpul dalam satu visi dan misi berbentuk kemanusiaan," kata Ajie.

Hingga hari keempat pascamusibah, Selasa (12/1/2020) Ajie belum menyelam. Ia akan menyelam ke perairan Kepulauan Seribu hari ini, Rabu (13/1/2021).

Bersama dengan lima dari total 17 penyelam POSSI, ia baru akan ditugaskan menyelam.

Persiapan fisik dan mental sudah dilakukan Ajie,tidak saja menekati waktu berangkat ke perairan Kepulauan Seribu untuk evakuasi Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021) sore.

Ia latihan berkala, di berbagai daerah, dalam waktu lama.

Pesawat tersebut hilang kontak dengan menara pengawas terjadi pada Sabtu sore, pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan sekitar Pulau Laki, Kabupaten Kepulauan Seribu.

Pesawat tersebut diawaki 12 orang . Adapun rincian penumpang dalam penerbangan SJ-182 berjumalh 50 orang, adalah 40 dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi dan 6 awak sebagai penumpang.

Punya pengalaman sebagai penyelam selama 12 tahun menyisakan berbagai cerita tersendiri yang masih membekas di benak Makmur Ajie Panangian.

Amankan Uang Rp 30 Miliar dari Dasar Laut

Penyelam yang tergabung dalam relawan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) tersebut pernah dilibatkan dalam sejumlah misi SAR.

Sebut misalnya, dalam kasus Kapal feri KM Lestari Maju yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, ke Pelabuhan Pamatata, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, tenggelam, Selasa (3/7/2018) siang.

KM Lestari Maju dikabarkan tenggelam di depan Ujung Pa’badilang, Kabupaten Selayar, saat hendak berlabuh.

Dilansir Wartakotalive,com dari Kompas.com, KMP Lestari Maju karam mengakibatkan 35 korban jiwa, satu orang hilang dan 155 selamat.

Kapal tersebut membawa 139 penumpang, 14 mobil pribadi, 6 unit bus atau truk, 8 unit motor.

KM Lestari Maju dikabarkan membawa uang tunai sebanyak Rp 30 miliar. Uang tersebut milik Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulselbar untuk pembayaran gaji 13 PNS.

Ajie masih ingat beberapa hal yang ditemuinya saat melakukan evakuasi bawah air, terutama saat peristiwa tenggelamnya KM Lestari Maju.

Secara spesifik, tugas yang mesti diemban Ajie kala itu ialah mengevakuasi uang negara sejumlah Rp 30 miliar.

Saat itu, Ajie turun ke bawah air dan mendapati uang miliaran rupiah tersebut di dalam air perairan Selayar, Sulawesi Selatan.

"Sebelum kejadian Lion Air, ada kejadian yang feri tenggelam, saya ada di lokasi nemuin duit, ada uang tunai. Jadi saya nge-rescue manusia dengan uang," kata Ajie.

Aji juga terlibat sebagai relawan mengevakuasi korban dalam kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang.

Kasus pesawat Lion Air Kode penerbangan JT-610, terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang (Bangka Belitung), jatuh pada 29 Oktober 2018.

Pesawat lepas landas dari Jakarta pukul 06:20 WIB (23:20 UTC) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Depati Amir di Pangkal Pinang pukul 07:20.

Pihak SAR menyatakan pesawat jatuh di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Tipe pesawat adalah model baru dan canggih, Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP dan dua mesin CFM International LEAP. Lion Air menerima pesawat terbang dari Boeing pada 13 Agustus 2018, hanya selisih sekitar dua bulan sebelum kecelakaan terjadi.

Pesawat mengangkut 181 penumpang (178 dewasa dan 3 anak) serta 6 awak kabin dan 2 pilot. Tidak ada korban selamat.

Keterlibatan terbaru, Ajie ikut terjun sebagai penyelam untuk operasi SAR kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Sumber : tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel